Menembus kemanusiaan dan melampauinya! Selamat hari PMI Nasional

ByJurnalistik Madrasah

 SEP 17, 2022

Oleh: Arum Farkhati, S.Pd

Tahun 2020 adalah tahun yang akan diingat oleh hampir seluruh umat manusia bahwa mereka menjalani fase kehidupan yang sukar sekaligus menyebabkan manusia menjadi mahluk yang mulai memudar sisi kemanusiaan atau kepeduliannya terhadap sesama. Penyebab dari itu adalah dunia dilanda pandemik atau wabah oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut sebagai Coronavirus Disease (Covid-19) yang diyakini penularannya berasal dari hewan kalilawar di Provinsi Hubei Tiongkok.

Wabah Covid-19 yang menggonjang seluruh kehidupan umat manusia di muka bumi ini menyebabkan rasa kemanusiaan terhadap sesama mulai pudar karena manusia menjadi mahluk yang individualis atau mementingkan diri sendri sehingga perlahan-lahan sisi kepeduliannya terhadap sesama memudar. Pendapat senada dikemukakan oleh Daniel Covid-19 memberikan dampak pudarnya kemanusiaan secara pelan- pelan. Hal ini terlihat dari konflik-konflik kecil yang muncul, yang apabila dibiarkan akan menciderai sikap empati manusia.

Palang Merah Indonesia (PMI) adalah sebuah organisasi perhimpunan nasional di Indonesia yang bergerak dalam bidang social kemanusiaan. PMI tidak memihak golongan, politik, ras, suku ataupun agama tertentu, dalam pelaksanaannya tidak melakukan pembedaan, tetapi mengutamakan korban yang paling membutuhkan pertolongan untuk keselamatan jiwanya. PMI selalu memegang teguh tujuh asas yaitu kemanusiaan, kesamaan, kesukarelaan, kemandirian, kesatuan, kenetralan dan kesemestaan. Tiga strategi yang dilakukan PMI yaitu, sterilisasi kota melalui penyemprotan disinfektan, edukasi masyarakat untuk melakukan pencegahan mandiri, serta memberikan bantuan sosial berupa paket hidup bersih dan sehat. “PMI selama ini bergerak untuk menangani Covid-19 mengandalkan tiga jurus, yaitu operasi penyemprotan desinfektan yang juga dilakukan di banyak negara,” kata Kalla (Kompas.com).

Sejak pemerintah mengumumkan Covid-19 telah masuk ke Indonesia, saat itu juga seakan masyarakat mengalami kepanikan massal. Masyarakat mengalami kepanikan karena media televisi dan media sosial seakan satu topik membahas Covid-19 dan memperlihatkan bagaimana ganasnya Covid-19 bagi korban yang terinfeksi. Berita dan pembahasan virus corona yang terus menerus di media massa cetak, elektronik dan media online serta sosial secara tidak langsung mempengaruhi warga, hingga membuat kepanikan dan kekhawatiran masyarakat. Berita yang keluar masuk melalui laman media sosial bisa bercampur antara berita valid dan berita hoax, sehingga berita mengenai Virus Corona semakin mendominasi bahkan bisa dikatakan berita mengenai Covid-19 memonopoli pemberitaan di Indonesia sepanjang tahun 2020 dan berita yang lain seolah tenggelam.

Respon masyarakat yang mengarah pada kepanikan karena Covid-19 ini menyebabkan memudarnya sisi kemanusiaan di antara satu sama lain. Wujud dari memudarnya kemanusiaan terhadap satu sama lain, masyarakat menjadi sangat minim sikap empatinya dan tidak peka akan kesulitan di sekitarnya. Tidak hanya itu saja, tindakan paling ekstrim kepudaran kemanusiaan disituasi pandemik ini yang bisa kita lihat adalah, ramai-ramainya sebagian masyarakat di tanah air menolak pemakaman korban Covid-19 di tanah wakaf yang dekat dengan lingkungan mereka. Menjauhi orang yang terinfeksi karena Covid-19 juga merupakan hal-hal yang sering kita dengar dari televisi.

Sikap sebagian masyarakat yang masih acuh dan masa bodoh, menyebabkan pemerintah dan tenaga medis kualahan mengatasi pandemik ini. Semakin banyak korban Covid-19, maka semakin banyak pula energi pemerintah melalui anggaran dana untuk menangani pasien Covid-19. Demikian juga para tenaga medis, mereka juga akan semakin kewalahan jika makin banyak masyarakat yang terpapar karena masih belum sepenuhnya menaati protokol kesehatan. Sikap acuh sebagain masyarakat terhadap situasi sekarang justru akan merugikan orang disekitar dan lingkungan. Jika sudah acuh tak acuh dengan himbauan pemerintah, itu perbuatan yang melanggar norma-norma kepedulian dan membuat orang lain bertambah susah. Dengan membuat orang lain susah, tentu itu mengikikis rasa kemanusiaan dengan tidak memperdulikan keadaan sekitar. Abai terhadap protokol kesehatan yang dapat merugikan orang lain adalah bagian dari pudarnya sisi kemanusiaan di masa pandemik ini.

Sebagai warga negara yang mengimani sila kedua Pancasila pasti akan senantiasa berpegang teguh menjaga dan mengamalkannya dengan baik. Terlebih dalam kondisi pandemic seperti ini, tidak harus anggota PMI melainkan seluruh warga Indonesia dihimbau untuk saling jaga, menjaga diri terlebih orang sekitar. Terjadinya degradasi rasa kemanusiaan disituasi pandemik ini, menjadi peringatan bagi orang percaya agar jangan sampai rasa ke-manusiaannya dan empatinya terkikis hanya karena ia juga dihadapkan pada situasi pandemik ini. Jika orang lain sisi kepeduliannya pudar dan menumpul belas-kasihannya, maka orang percaya harus semakin menunjukkan kepedulian, kemurahan hati untuk ikut sepenanggungan melihat kesulitan hidup manusia di sekitarnya. Hari lahir PMI sudah seharusnya menjadi hari dimana kita merefleksikan nilai-nilai PMI agar kita senantiasa menjadi masyarakat yang bersila “Kemanusiaan yang adil dan beradab”., karena kemanusiaan adalah puncak kasta tertinggi yang melampaui agama sekalipun.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *