oleh: Nurul Fatimah, S.Pd

Kasus HIV/AIDS di Indonesia cukup banyak, bahkan Indonesia merupakan negara urutan ke-5 paling berisiko HIV/AIDS di Asia. Menurut Kementrian Kesehatan data penderita HIV/AIDS terus meningkat setiap tahun sejak pertama kali dilaporkan (1987). Selama sebelas tahun terakhir kasus HIV/AIDS di Indonesia mencapai puncak pada tahun 2019, yaitu mencapai 50.282 kasus.

Data menyebutkan kasus HIV/AIDS terjadi karena pergaulan bebas, seks bebas  maupun penggunaan narkoba dan penggunaan suntik yang bergantian. Ironinya kaum remaja yang terancam dikarenakan pergaulan bebas. Kurangnya pengetahuan remaja mengenai pergaulan bebas, seks bebas, penggunaan narkotika menjadi salah satu penyebab seseorang mudah terpengaruh pergaulan bebas.

Masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, yang melibatkan perubahan biologis, kognitif maupun emosi. Menurut Erikson, masa remaja berada pada tahap kelima dari perkembangan yang disebut dengan tahap identitas versus kebingungan identitas. Masa dimana seseorang sedang mencari jati diri, akan dengan mudah menerima hal baru termasuk pengaruh buruk dari luar. Apalagi di jaman yang semakin berkembangan ini, semakin mudahnya seseorang mengakses situs-situs yang menyediakan gambar porno, yang secara pelan tapi pasti akan mendorong pada kehidupan seks bebas sehingga akan rentan dengan penyakit menular seksual seperti HIV/AIDS.

HIV/AIDS merupakan penyakit menular seksual yang mematikan dan belum ada obatnya hingga saat ini. HIV (human immunodeficiency virus) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan melemahnya kemampuan tubuh dalam melawan infeksi dan penyakit. Seseorang yang terinfeksi HIV akan rentan terinfeksi penyakit lain, seperti TBC, tipes, infeksi herpes, radang kulit, meningitis, kanker, dan gagal ginjal. Jika tidak segera ditangani HIV akan berkembang menjadi kondisi lebih serius yang disebut AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome), jika sudah pada tahap AIDS sistem kekebalan tubuh penderita untuk melawan penyakit sudah sepenuhnya hilang.

HIV dapat ditemukan di dalam cairan tubuh orang yang terinfeksi. Cairan tubuh tersebut adalah cairan sperma, cairan vagina, cairan anus, darah, dan ASI. Penyebab HIV adalah virus jenis retrovirus yang menyebabkan sindrom defisiensi imun yang didapat. Virus HIV yang menjadi penyebab HIV/AIDS. Virus ini mampu melemahkan kemampuan seseorang untuk melawan infeksi dan kanker. Penyakit ini dapat melular melalui hubungan seksual atau melalui transmisi antar jarum suntik yang umumnya dilakukan para pengguna narkoba, transfusi darah, ataupun dari plasenta ibu pada janinnya.

Beberapa orang penderita HIV bergejala seperti flu dalam waktu satu bulan setelah terinfeksi. Gejala ini biasanya dapat hilang dalam waktu satu minggu sampai satu bulan. Seseorang dapat terinfeksi HIV selama bertahun-tahun sebelum merasa sakit, bahkan dapat tampak seperti orang sehat pada umumnya, tanpa menujukkan gejala HIV. Selama penyakit berlangsung, orang bisa mengalami infeksi jamur di lidah. Pada perempuan bisa dengan mudah terkena infeksi jamur vagina berat atau penyakit radang panggul. Herpes zoster sering terlihat sejak awal, sebelum seseorang didiagnosis dengan penyakit HIV.

Untuk mengetahui seseorang terinfeksi HIV maka perlu dilakukan skrining dengan pengambilan sampel darah. Apabila hasil skrining menunjukkan pasien terinfeksi HIV, maka pasien perlu menjalani tes lanjutan. Selain untuk memastikan hasil skrining, tes tersebut dapat membantu dokter mengetahui tahap infeksi yang diderita serta untuk menentukan metode pengobatan yang tepat. Tes dilakukan dengan mengambil sampel darah pasien, untuk diteliti di laboratorium. Salah satu tes tersebut adalah dengan menghitung sel CD4. CD4 adalah bagian dari sel darah putih yang dihancurkan oleh HIV. Semakin sedikit jumlah CD4, semakin besar kemungkinan seseorang terserang AIDS, begitu sebaliknya.

Pengobatan HIV/AIDS diharapkan mampu menolong penderita HIV. Sayangnya, hingga kini belum ada obatnya untuk menyembuhkan penyakit HIV/AIDS secara total. Namun, dengan pengobatan HIV/AIDS yang ada sekarang, penyebaran dan pertumbuhan penyakit dalam tubuh dapat ditekan dan diperlambat dengan obat antiretroviral (ARV). Seseorang yang terinfeksi HIV harus meminum obat ini seumur hidupnya. Dengan mengonsumsi ARV, meskipun tidsk dapat menyembuhkan secara total dapat membantu melemahkan virus sehingga penderita dapat hidup dengan normal, seorang ibu pengidap HIV yang sedang hamil tidak akan menularkan kepada bayi yang dikandungnya. Namun, sebaiknya, pengidap HIV perlu berkonsultasi khusus kepada dokter untuk merencanakan persalinan sampai dengan metode yang tepat untuk melahirkan dan memberikan ASI lantaran virus penyebab HIV/AIDS ada di dalam tubuhnya.

Agar dapat mencegah terjadinya penyakit HIV/AIDS, kita harus dapat menjaga pergaulan dan memilih gaya hidup sehat agar tidak terjebak pada seks bebas. Selain itu, gunakan internet secara arif dan bijaksana dengan tidak mengakses situs-situs yang menyediakan gambar atau film prono, yang secara pelan tapi pasti akan mendorong pada kehidupan seks bebas yang sangat rentan dengan penularan penyakit seksual. Hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan menjauhkan diri dari pergaulan dengan narkoba. Gunakan waktu luang untuk menyalurkan hobi atau kegiatan yang positif sehingga terhindar dari pergaulan yang tidak sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *