Oleh: Siti Ngiytul Lailiyah, S.Pd

Polemik nasionalisme dan generasi Z akhir-akhir ini menjadi perhatian masyarakat dan elite yang masih peduli dengan eksistensi NKRI. Sebuah kolom surat kabar di Amerika (2014) seorang kolumnis mengungkapkan bahwa generasi Z dianggap lebih tidak patriotik dan dinilai lebih rendah nasionalismenya  dibandingkan dengan generasi sebelum-sebelumnya. Generasi Z merujuk kepada generasi yang lahir setelah tahun 1994 (Combi, 2015). Pandangan dan dugaan tentang rendahnya nasionalisme pada Generasigenerasi Z menunjukkan bahwa persoalan identitas, baik dalam hal identitas personal maupun identitas nasional, adalah salah satu persoalan yang patut untuk dikaji secara mendalam dalam konteks lintas-generasi. Secara analog, persoalan-persoalan yang terjadi dan melibatkan Generasi Z menjadi salah satu isu penting dalam menjembatani keterkaitan antargenerasi, baik dari Baby Boomers, Generasi Y, dan Generasi Z, serta Generasi Alfa. Perkembangan teknologi dan informasi tidak hanya mengubah konstelasi keperilakuan, tetapi juga berdampak pada profil identitas yang dimiliki oleh generasi-generasi yang hidup pada jaman ini (Geschiere & Meyer, 1998 dalam Yulianto 2017)

Perlu diingat bahwa generasi Z ini lahir lekat dengan perkembangan teknologi yang kian pesat dan tidak dipungkiri adanya arus informasi yang begitu derasnya. Lazimnya generasi yang memasuki Angkatan kerja ini segala kegiatan dalam kehidupannya sehari-hari tidak lepas dari penggunaan internet. Sejak kecil generasi ini sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepribadian.

Forbes Magazine membuat survei tentang generasi Z di Amerika Utara dan Selatan, di Afrika, di Eropa, di Asia dan di Timur Tengah. 49 ribu anak-anak ditanya (Dill,2015 dalam Yulianto 2017). Atas dasar hasil itu dapat dikatakan bahwa generasi Z adalah generasi global pertama yang nyata. Teknologi tinggi dalam darah mereka, mereka telah tumbuh di lingkungan yang tidak pasti dan kompleks yang menentukan pandangan mereka tentang pekerjaan, belajar dan dunia. Mereka memiliki harapan yang berbeda di tempat kerja mereka, berorientasi karir, generasi profesional yang ambisius, memiliki kemampuan teknis-dan pengetahuan bahasa pada tingkat tinggi. Oleh karena itu, mereka tenaga kerja yang sangat baik. Pengusaha harus mempersiapkan untuk terlibat generasi Z karena mereka adalah karyawan yang efektif di era digital (Elmore, 2014).

Tahun KelahiranNama Generasi
1925 – 1946Veteran generation
1946 – 1960Baby boom generation
1960 – 1980X generation
1980 – 1995Y generation
1995 – 2010Z generation
2010 +Alfa generation

131 Theoritical Review : Teori Perbedaan Generasi (Yanuar Surya Putra)

Bagi generasi Z informasi dan teknologi adalah hal yang sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka, karena mereka lahir dimana akses terhadap informasi, khususnya internet sudah menjadi budaya global, sehingga hal tersebut berpengaruh terhadap nilai – nilai, pandangan dan tujuan hidup mereka. Bangkitnya generasi Z juga akan menimbulkan tantangan baru bagi praktek manajemen dalam organisasi, khususnya bagi praktek manajemen sumber daya manusia (Putra, 2017).

Nasionalisme dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia dikenal sebagai sebuah kata sakti yang mampu membangkitkan kekuatan berjuang melawan penindasan yang dilakukan kaum kolonialis selama beratus-ratus tahun lamanya. Perasaan senasib dan sepenanggungan yang dialami mampu mengalahkan perbedaan etnik, budaya dan agama sehingga lahirlah sejarah pembentukan kebangsaan Indonesia.

Tonggak sejarah yang terpenting dalam proses nasionalisme di Indonesia adalah ketika lahirnya Budi Utomo pada tahun 1908, diikuti ikrar Sumpah Pemuda pada tahun 1928, yang mengilhami lahirnya konsep bertanah air Indonesia, berbangsa Indonesia dan berbahasa Indonesia. Proses nasionalisme tersebut berlanjut dan melandasi perjuangan-perjuangan berikutnya hingga lahirlah Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 setelah melalui proses yang sangat panjang dan berat. Keberhasilan bangsa Indonesia lepas dari penjajahan melalui perjuangannya sendiri juga melahirkan pengakuan dunia bahwa nasionalisme Indonesia termasuk salah satu yang terkuat karena hanya sedikit negara dari dunia ketiga yang mampu merdeka melalui proses revolusi (Hara, 2000).

Lahirnya nasionalisme di Indonesia selain disebabkan penderitaan panjang di bidang ekonomi, sosial, pendidikan, hukum dan politik, juga dipengaruhi oleh meningkatnya semangat bangsa-bangsa terjajah lainnya dalam meraih kemerdekaan, antara lain dari Filipina dan India. Sejarah terbentuknya nasionalisme di Indonesia disebabkan adanya perasaan senasib sepenanggungan yang merupakan suatu reaksi subyektif, dan kemudian kondisi obyektif secara geografis menemukan koneksitasnya (Rachmat, 1996). Ditambahkannya, ada perbedaan kausal antara nasionalisme di Indonesia dengan nasionalisme di Eropa, yaitu bila nasionalisme di Indonesia muncul sebagai reaksi terhadap penjajahan kolonial, tetapi di Eropa, nasionalisme lahir akibat adanya pergeseran dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri sebagai dampak dari revolusi industry (Kusumawardani dan Faturochman, 2004).

sikap nasionalisme sebagai suatu penilaian atau evaluasi terhadap rasa cinta tanah air dan bangsa atas kesadaran dan tanggung jawab sebagai warga negara. Implementasi dari sikap nasionalisme setidaknya diwujudkan melalui pemenuhan unsur-unsur nasionalisme, yaitu cinta terhadap tanah air dan bangsa, berpartisipasi dalam pembangunan, menegakkan hukum dan menjunjung keadilan sosial, memanfaatkan sumberdaya sekaligus berorientasi pada masa depan, berprestasi, mandiri dan bertanggung jawab dengan menghargai diri sendiri dan orang lain, serta siap berkompetisi dengan bangsa lain dan terlibat dalam kerjasama internasional. Nasionalisme yang ideal seperti ini akan mengantarkan warga negara sebagai orang-orang yang mempunyai kualitas psikologis yang tinggi (Kusumawardani dan Faturochman, 2004).

Hasil penelitian Yulianto menunjukkan bahwa kelompok remaja yang adiksi internet cenderung lebih memiliki identitas nasional yang lebih lemah dibandingkan dengan kelompok remaja yang tidak menggunakan internet. Temuan ini berbeda dengan temuan penelitian yang dilakukan oleh Eriksen (2007), dimana internet justru dipandang sebagai media yang efektif dalam memperkuat nasionalisme. Bangsa-bangsa yang kehilangan teritori secara de facto maupun de jure, kerap dapat menunjukkan eksistensinya melalui berbagai komunitas virtual yang dibentuk melalui internet. Namun demikian, pola adiksi yang ditunjukkan oleh responden dalam penelitian ini justru menunjukkan sebaliknya: Semakin kuat adiksi yang ditunjukkan oleh responden, maka semakin lemah identitas nasional yang ditunjukkan. Perbedaan ini diduga terjadi karena keterbatasan kontrol dalam menentukan efektivitas eksposi terhadap konten-konten yang dapat meningkatkan nasionalisme di kalangan generasi muda.

Tingginya literasi digital yang dimiliki oleh Generasi Z pada titik tertentu membuat negara kesulitan untuk mengontrol informasi yang dapat diakses. Melimpahnya arus informasi memiliki efek terhadap kesempatan untuk terpapar dengan berbagai eksposi terhadap kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh negara lain. Kesadaran tentang Indonesia pada Generasi Z tumbuh bersamaan dengan kesadaran terhadap budaya dan kelebihankelebihan yang dimiliki oleh bangsa lainnya.

Konten yang diakses dalam menggunakan internet memiliki keterkaitan kuat dalam membentuk sikap terhadap nasionalisme. Hal ini relevan dengan penelitian Hyun, Kim, dan Sun (2014) yang menjelaskan bagaimana sikap terhadap anti-Jepang di kalangan masyarakat Tiongkok dipengaruhi oleh konsumsi media-media.

Ishii (2013) menunjukkan bahwa eksposi konten yang dialami oleh pengguna internet cenderung menurunkan patriotisme terhadap negara, tetapi berkorelasi positif terhadap karya-karya dari luar negeri. Hal ini secara tidak langsung menegaskan bahwa penggunaan internet menambah kemungkinan eksposi terhadap karya dari negara lain sehingga berpeluang menurunkan etnosentrisme pada pengguna internet.

Hadirnya generasi Z ini juga akan menimbulkan tantangan baru bagi praktek manajemen organisasi, khususnya bagi praktek manajemen sumber daya manusia dalam mewujudkan nasionalisme. Hal ini tentu menjadi perhatian kita semua agar turut mengawal generasi Z agar nasionalisme mengalir dalam setiap mili darahnya.

Daftar Pustaka

Combi, C. (2015). Generation Z: Their voices, their lives. NY: Cornerstone.

Eriksen, T.H. (2007). Nationalism and the internet. Nations and Nationalism, 13 (1), 1-17.

Hara, AE. Kebanggan Berbangsa Indonesia. Kompas, 17 Agustus 2000.

Ishii, K. (2013). Nationalism and preferences for domestic and foreign animation programmes in China. International Communication Gazette, 75 (2), 225- 245

Kusumawardani, A., & Faturochman, M. A. (2004). Nasionalisme. Buletin Psikologi12(2).

Putra, Y. S. (2017). Theoritical review: Teori perbedaan generasi. Among Makarti9(2).

Yulianto, J. E. (2016). Studi komparatif identitas nasional pada remaja generasi Z ditinjau dari intensitas penggunaan internet. Humanitas: Jurnal Psikologi Indonesia13(2), 149-159.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *