Oleh: Riyanto, S.Ag

Tradisi umat islam diberbagai negara dibelahan dunia pada setiap bulan rabiul awal adalah perayaan maulid nabi saw. Memperingati maulid nabi bisa dilakukan pada setiap suasana kebahagiaan dan kegembiraan, terutama pada bulan maulid (Robiul awwal) dan hari kelahiran beliau yaitu hari senin. Upacara maulid merupakan media yang efektif yang seyogianya tidak disia-siakan untuk mengingatkan umat kapada Nabi tentang pribadi, akhlak mulianya, perangainya, dan adap sopan-santunnya yang tinggi, pergaulan sosialnya, dan ritual ibadahnya yang sempurna, Allah swt. berfirman:

وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهٖ فُؤَادَكَ وَجَاۤءَكَ فِيْ هٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَّذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ

Artinya: “Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu; dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat dan peringatan bagi orang yang beriman.” (QS. Hud: 120).

Dari ayat ini jelas bahwa hikmah penuturan kisah para rasul adalah untuk mengukuhkan hati Muhammad saw. Terhadap apa yang pernah dialami oleh para rasul sebelumnya. Kita pun sangat membutuhkan keteguhan hati melalui upaya mencari hikmah dari kisah dan sejarah Nabi Muhammad saw. Peringatan maulid Nabi merupakan suatu upaya mengingat kisah nabi kemudian meneladaninya.

Sesungguhnya kelahiran Rasulullah saw. Merupakan pengumuamn dari Allah SWT. Akan datangnya penutup para nabi dan pemimpin para Rasul. Tidak diragukan bahwa mengingat dan memperingati kelahiran Rasulullah saw. Itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin, kita perlu menginat semua yang berkaitan dengan Rasulullah saw. Disamping beliau adalah rahmat yang Allah turunkan bagi seluruh alam, beliau juga merupakan sebaik-baik pemimpin dan panutan bagi orang mukmin, hal ini sesuai dengan firman Allah SWT:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّـهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Artinya: “Sungguh pada diri Rasulullah itu terdapat suri tauladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Maidah: 21)

Perayaan Maulid yang merupakan upaya untuk mengenang Nabi saw. Yang di syariatkan dalam agama islam itu Juga mendorong untuk bershalawat dan bersalam kepada nabi Muhammad saw. Bershalawat dan bersalam merupakan amalan yang diperintahkan Allah dalam firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al_Ahzab: 56)

Ucapan Sholawat kita terhadap Rasulullah saw. Mengandung pujian kepadanya dan permohonan supaya lebih banyak lagi kemuliaan Allah SWT. Yang dilimpahkan kepadanya.

Perayaan maulid nabi, perkumpulan dzikir, sedekah dan pujian kepada Nabi merupakan  perbuatan yang dianjurkan dan dipandang baik bagi kaum muslimin. Berkaitan dengan hal ini Sudah banyak hadits dan atsar yang shahih menerangkannya, diantaranya adalah kaidah yang diambil dari hadits Ibnu Mas’ud ra:

مَا رَآهُ الْمُسْلِمُوْنَ حَسَناً؛ فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ، وَمَا رَآهُ الْمُسْلِمُوْنَ سَيِّئاً؛ فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ

Artinya: “Sesuatu hal yang baik menurut pandangan kaum muslimin, maka  baik pula disisi Allah. Sebaliknya, apa yang buruk menurut pandangan kaum muslim, maka buruk pula bagi Allah.” (HR. Ahmad)

Peringatan maulid Nabi dengan sebuah upacara tradisional dimasyarakat jawa memang belum pernah dilakukan oleh para pendahulu dan belum ada pada era awal islam, namun hal itu tidak secara otomatis termasuk bid’ah yang jelek. Segala hal yang baru perlu dicarikan keselarasan dengan prinsip substansial pesan-pesan syariat, apabila sebuah amalan yang baru ternya mengandung kemaslahatan, maka hukumnya menjadi wajib, jika mengandung kemungkaran maka menjadi haram, jika mengandung kemakruhan  maka makruh hukumnya, jika mengandung kesunahan maka menjadi sunat. dengan demikian bid’ah memiliki hukum yang beragam tergantung tujuan, isi, dan akibatnya. Jika tujuan, isi, dan akibatnya positif maka akan masuk kategori bid’ah yang baik. Sebaliknya jika tujuan, isi, dan akibatnya adalah negative maka termasuk bid’ah yang jelek. Dengan melihat bahwa peringatan maulid nabi mengandung tujuan, isi, dan akibat yang positif maka ia dianjurkan oleh agama, perayaan maulid memang merupakan bid’ah jika dipandangn cara pelaksaannya yang melibatkan perkumpulan orang banyak, namun secara substansial, perayaan maulid bukanlah bid’ah yang sesat, karena tujuannya baik.

Sesungguhnya orang yang pertama kali merayakan maulid Nabi adalah beliau sendiri, ungkapan Nabi dalam mengagungkan hari kelahiran beliau diwujudkan dengan dengan cara berpuasa, sebagaimana di disebutkan dalam hadits Riwayat Abi Qatadah:

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الِاثْنَيْنِ فَقَالَ : ( فِيهِ وُلِدْتُ وَفِيهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ )

Artinya: “Rasulullah saw. Pernah ditanya tentang puasa hari senin, beliau menjawab: “di hari hari itu aku dilahirkan dan dihari itu pula Al-qur’an diturunkan”. (HR. Muslim)   

Puasa Hari senin merupakan wujud rasa syukur Nabi untuk memperingati hari kelahirannya. Hanya saja cara mengungkapkan kebahagiaan dan syukur dapat bermacam-macam bentuknya, baik dalam bentuk puasa, sedekah kepada fakir miskin, maupun berkumpul-kumpul Bersama-sama bershalawat atas Nabi.

Dari beberapa keterangan yang bersumber dari Al-Qur’an, hadits, dan atsar diatas dapat ditarik pengertian bahwa kita dianjurkan mengungkapkan rasa  syukur kepada Allah pada hari tertentu atas nikmat dan keselamatan yang diberikan kepada kita. Rasa syukur itu sebaiknya diulangi pada hari yang sama setiap tahunnya atau disetiap momen baik lainya, dalam pembabhasan ini memang sungguh orang yang berhak untuk diperingati oleh kaum muslimin dengan penuh rasa suka dan bahagia adalah Nabi Muhammad saw.   Apabila kita diperintahkan untuk bersyukur atas nikmat yang kita terima, lalu nikmat mana yang lebih besar melebihi nikmat kelahiran Nabi pembawa rahmat. Hal ini sesuai firman allah yang secara eksplisit menyatakan tentang besarnya nikmat dan anugerah-Nya bagi orang-orang mukmin:

لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَۚ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Artinya: “Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imron: 164)

Ungkapan rasa syukur kepada Allah dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk amalan ibadah, seperti sujud syukur, puasa, sedekah, membaca shalawat, membaca Al-Qur’an, dan amal kebajikan yang lainnya.

Tidak ada tercelanya apabila kaum muslimin baik mereka yang berada di timur maupun berada di barat, mengadakan peringatan yang berkaitan dengan kelahiran nabi Muhammad saw. Dalam acara itu mereka dapat mempelajari sunah, dakwah, akhlak, dan kehidupan Rasulullah saw. Dan sejatinya momen ini memang merupakan perwujudan kecintaan kepada Allah, karena Nabi Muhammad saw. Adalah kekasih-Nya, jika memang demikian kenyataannya maka kaum muslim wajib mengikuti sekaligus meneladani Nabi Muhammad saw. Dalam seluruh aspek kehidupannya bukan sekedar hanya pada aspek tertentu saja. Mudah-mudah peringatan maulid Nabi dapat mendorong kita semua untuk banyak berbuat kebajikan, dapat meneledani Nabi, digolongkan sebagai orang yang bersyukur dan diakui sebagia umatnya (amin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *