Oleh: Akhmad Agil Winanto, S.Th.I

Tanggal 22 Oktober adalah peringatan hari santri nasional. Peringatan ini, dikukuhkan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 22 Oktober di Masjid Istiqlal Jakarta. Ditetapkannya tanggal 22 Oktober sebagai hari santri, merujuk kepada peristiwa bersejarah seruan Resolusi Jihad yang diserukan K.H. Hasyim Asy’ari pada tanggal 21 dan 22 Oktober 1945. Pada waktu itu beliau menjabat sebagai Rais Abar Pengurus Besar Nadhatul Ulama (PBNU). Saat itu Belanda berupaya kembali menguasai Indonesia dengan membonceng sekutu. Maka pada tanggal 21 dan 22 Oktober 1945 para pengurus NU Jawa dan Madura menggelar pertemuan di Surabaya tentang sikap terhadap kedatangan Belanda. Setelah deklarasi Resolusi Jihad, para santri pun ikut berpartisipasi dalam membela negara dari serangan pihak asing

Kemerdekaan negara Indonesia tidaklah luput dari peran serta para santri yang berjuang merebutnya dari penjajah saat itu. Oleh karena itu, para santri di era modern ini seharusnya mempunyai andil yang besar juga dalam mempertahankan keutuhan negara ini dari berbagai unsur. Untuk memaknai hari santri di era sekarang adalah mempertahankan kemerdekaan, yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu kita.

Di sekarang atau yang lebih tren disebut  era revolusi industri 4.0, yang mana perkembangan teknologi saat pesat dan tidak terkontrol. Sebab itu, peranan pesantren sangatlah vital dalam mengkonter pengaruh-pengaruh buruk dari tidak terkontrolnya informasi, yang bisa menyebabkan dekadensi moral para kaum mileneal, khususnya para santri. Bagi generasi mileneal, internet sudah menjadi kebutuhan primer bukan kebutuhan tersier atau sekunder lagi. Dengan adanya berbagai medsos yang bertebaran di internet menjadikan problem tersendiri bagi kalangan santri atau pesantren. Dengan adanya pengaruh media sosial, membuat pola berfikir, perilaku atau kebiasaan santru mulai adanya perubahan.  Perubahan teresebut tidak bisa dihindari, tapi harus dihadapi. Oleh karena itu, pesantren harus menyiapkan para santrinya untuk menghadapi dan memfilternya. Perlunya pesantren mencetak santri milenial yang melek teknologi, dimana santri turut berperan aktif sebagai promotor atau kreator dalam merespon perkembangan. Santri mileneal harus memiliki daya pikir yang luas dalam menghadapi persoalan yang terjadi dan tidak mudah menerima informasi mentah yang tersebar di media sosial.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan tidak terkontrolnya informasi, yang berdampak dekadensi moral kaum milenial. Oleh karena itu, perlu dikuatkan lagi pendidikan berkaitan dengan akhlak, yang mana pendidikan akhlak merupakan kurikulum dasar di pesantren. Filosofi “ puncak tertinggi ilmu adalah akhlak”, perlu digalakkan lagi di kalangan santri, ajaran-ajaran tentang keindahan-keindahan akhlak dari kitab-kitab turots lebih ditekankan dan dipraktekkan dalam keseharian. Unggah ungguh terhadap kyai, para guru, dan senior perlu dipertahankan dan dilestarikan. Istilah tabarukkan terhadap kyai dan guru yang sedikit mulai luntur, perlu ditekankan kembali. Dan perlu diingat, semua adab dan akhlak bermuara kepada keihlasan lillahi taala.

Pada tahun ini, Hari Santri Nasional mengusung tema Santri Siaga Jiwa Raga. Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas  yang akrab disapa Gusmen itu menjelaskan, Siaga Jiwa berarti santri tidak pernah lengah menjaga kesucian hati dan akhlak, berpegang teguh pada akidah, nilai, dan ajaran Islam rahmatan lil’alamin dan tradisi luhur bangsa Indonesia. Sementara itu, Siaga Raga berarti bahwa badan, tubuh, tenaga, dan buah karya santri didedikasikan untuk Indonesia. Karenanya, santri tidak pernah lelah berusaha dan terus berkarya untuk Indonesia, sebagaimana yang dikutip dari jabar.nu.or.id.

Untuk menuju insan kamil, maka dunia pesantren perlu menyiapkan para santri yang siaga akhlak dan raga dalam menghadapi era mileneal dan globalisasi. Sehingga nantinya para santri siap terjun di masyarakat, dan menjadi teladan di masyarakat masing-masing. Mereka akan menjadi corong atau pemimpin yang mewarnai kemerdekaan Indonesia dengan akhlak dan raga mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *