Oleh: Tri Hermawan Budianto, S.Pd

Olahraga menjadi tren semenjak virus covid 19 merajalela di seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari olahraga lari, senam, futsal, dan bersepeda. Himbauan pemerintah untuk berolahraga di rumah pun tidak dihiraukan. Sebuah studi dari Norwegia mengatakan bahwa virus Covid 19 tidak menyebar melalui keringat. Hal ini membuat tempat gym menjadi ramai oleh orang-orang yang ingin berolahraga. Sepanjang jalan juga ramai orang bersepeda baik komunitas maupun individu. Padahal di masa pandemi seperti ini kita bisa melakukan olahraga dirumah dengan panduan aplikasi kesehatan dan fitness.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Nielsen dkk pada tahun 2014 mengatakan bahwa olahraga intensitas sedang dapat meningkatkan sistem imunitas. Kemudian Callaghan di London juga berpendapat bahwa olahraga dapat meningkatkan kesehatan mental, kepercayaan diri, kemampuan kognitif seseorang, serta dapat mengurangi kecemasan, depresi, dan suasana hati yang negatif.

Kasus Covid 19 di dunia dan Indonesia terus meningkat sehingga pemerintah menghimbau kepada masyarakat untuk melakukan aktivitas di rumah saja. Namun di rumah saja juga mengakibatkan penurunan aktivitas fisik pada masyarakat yang dapat menyebabkan lebih banyak menghabiskan waktu menggunakan gawai, memiliki pola tidur tidak teratur, dan terjadi peningkatan berat badan. Kurang melakukan aktivitas fisik berdampak terhadap penurunan daya tahan tubuh sehingga rentan terinfeksi Covid 19. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa olahraga mampu menurunkan risiko penyakit.

Olahraga  sebenarnya  memiliki  banyak  efek  positif.  Olahraga  ini  sering  disebut aktivitas  fisik  untuk meningkatkan kesehatan dan  kebugaran. Manfaat  positif  olahraga adalah  meningkatkan  perkembangan psikologis  dan  psikososial,  tidur  lebih  nyenyak, bahkan  dapat  mengurangi  ketergantungan  terhadap  alkohol  (Lopez et  al.,  2016). Beberapa hasil penelitian juga menunjukkan bahwa olahraga atau aktivitas fisik dapat mencegah terjadinya gangguan mental yang dialami oleh sebagian orang karena adanya penerapan karantina dan isolasi, maupun jaga jarak (physical dystancing) akibat pandemik Covid-19. Gangguan mental tersebut misalnya depresi, kecemasan, sindrom kelelahan dan stress.. Olahraga yang baik di lakukan dengan cara Interval Training, yaitu dengan cara menggabungkan latihan pendek dengan intensitas tinggi dan diulang-ulang, yang kemudian secara bertahap diikuti dengan durasi latihan yang lebih panjang untuk memulihkan diri.

Efek olahraga juga bisa negatif jika dilakukan berlebihan, misalnya kelelahan (burnout), cedera, ataupun luka karena terjatuh atau kurang berhati-hati (Malm et al., 2019). Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwasannya olahraga  seperti  pedang bermata  dua.  Di  satu  sisi  menguntungkan,  namun  di  sisi  lain  dapat  membahayakan. Olahraga intensitas sedang akan meningkatkan sistem imun, sebaliknya olahraga berlebihan dengan intensitas tinggi dan durasi panjang akan melemahkan sistem imun. Atlet yang berlatih sangat keras lebih sering terinfeksi karena beban latihan yang tinggi sehingga meningkatkan stres psikologis.

Hal yang perlu kita perhatikan di masa pandemi ini adalah untuk mengikuti anjuran dari pemerintah untuk tetap berada di rumah. Karena olahraga bisa dilakukan dimana saja, termasuk di rumah. Jangan sampai karena olahraga di luar rumah, niat kita yang tadinya ingin sehat malah menjadi sakit karena terinveksi virus covid 19.

Olahraga di rumah dengan alat sederhana sangat cocok untuk meminimalkan risiko penularan dan mengurangi risiko penyakit kronis. Naik turun tangga, senam, yoga, angkat beban, sit up, push up, maupun senam qiqong juga merupakan alternative yang baik. Olahraga tersebut hanya membutuhkan sedikit ruangan dan bisa dilakukan di setiap waktu. Video olahraga yang tersedia di internet juga bisa dimanfaatkan untuk mempertahankan kesehatan fisik dan mental selama periode kritis pandemi ini (Chen et al., 2020)

Daftar Pustaka

Chen. P., Mao, L., Nassis, G.P., Harmer, P., Ainsworth, B.E., Li, F. 2020. Wuhan coronavirus (2019-nCoV): The need to maintain regular physical activity while taking precautions. J Sport Health Sci., 9 (2), pp.103–4.

Lopez V.F.J., Rodriguez G.P.L., Garcia, C.E., Perez, S.J.J. 2016. Relationship between sport and physical activity and alcohol consumption among adolescents students in Murcia. Arch. Argent. Pediatr.,114, pp.101–106.

Malm, C., Jakobsson, J., Isaksson A. 2019. Physical Activity and Sports—Real Health Benefits: A Review with Insight into the Public Health of Sweden. Sports, 7(127), pp.1-28.

Nielsen, Hilde Grindvik. 2013. Exercise and Immunity. Norway: INTECH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *