Ketika Nahkodaku Enggan Kembali

Oleh: Siti Ngiyatul Lailiyah

Terik mentari menghangatkan pagi ini. Cahaya menelisik di setiap celah kisi. Berpendar rapi bak pasukan Sulaiman. Serentak menjamah setiap inci kehidupan. Debu-debu berterbangan seakan memenuhi panggilan agung, tampak jelas butir demi butirnya. Tak lagi didapati suara kokok ayam, mereka sudah riang berlari kian kemari dan sibuk mengais cacing.

Ya, mentari berhasil membuat Maryati menyipitkan sebelah mata ketika tidak sengaja memandangnya. Kendati demikian ia tetap menikmatinya, menikmati hangat mentari menerpa wajahnya yang sudah mulai keriput namun tetap saja rupawan. Maryati sudah terbiasa berkawan dengan terik, debu, dan radikal bebas yang mengancam kesehatannya setiap waktu. Samijan, suaminya meninggalkan Maryati sejak sepuluh tahun silam ketika ia mengandung Nafisah–anak keduanya. Maryati dalam usianya yang belum genap 40 tahun, dengan paras cantiknya yang meneduhkan itu harus membanting tulang untuk menafkahi dua anaknya seorang diri. Pekerjaan apa pun ia tekuni asalkan halal. Maryati tidak malu ketika setiap pagi ia menjadi loper koran dengan sepeda tuanya berkeliling di terminal kota, meski jarak rumahnya dengan terminal sekitar 13 Km.  Sepulang dari terminal, Maryati masih disibukkan sebagai buruh cuci di kawasan tempat tinggalnya. Maryati hanya ingin anak-anaknya tetap melanjutkan pendidikan hingga bangku perkuliahan. Empat tahun terakhir ini sudah banyak pemuda yang datang hendak meminangnya, namun Maryati enggan. Ia memilih menunggu, menunggu suaminya kembali. Entahlah energi apa yang dimiliki Maryati sehingga ia masih percaya bahwa suaminya pasti kembali.

o 0 o

Sore menjelang maghrib, lembayung senja menyapu lamat-lamat cakrawala di kaki langit. Burung-burung kembali ke sarangnya dalam kepakan damai. Desir angin berhembus lembut, terasa nikmat di telinga. Sore itu, dalam hanyut pesona senja Maryati terperanjat ketika Samijan meminta izin untuk mencari pekerjaan di Surabaya, kota metropolitan terbesar kedua setelah ibukota di Indonesia.

“Sayang, hendaklah suamimu ini mengupayakan kebahagian keluarga kecil kita nanti”, Samijan berbisik lembut di telinga Maryati seraya melingkarkan tangannya di pinggul Maryati dari belakang.

“Sayang, sebentar lagi kita akan mempunyai buah hati lagi. Tentu kebutuhan keluarga kita makin membengkak, kita harus membeli susu, menyiapkan biaya pendidikan, dan segala kebutuhan sehari-hari lainnya”, lanjut Samijan.  Maryati masih menyimak dengan saksama dalam diam.

“Sayang, dengan berat hati kukatakan, bagaimana bila aku mengais rezeki di kota seberang?”, lanjut Samijan. Maryati tersentak namun tetap diam, tanpa terasa bulir-bulir hangat meluncur pelan di pipi Maryati.

“Aku berjanji setelah aku mendapat pekerjaan, aku akan segera kembali untuk menyambut buah hati kita. Berapa pun rupiah yang ku peroleh, aku akan segera pulang”, tutur Samijan menenangkan Maryati yang mulai lebur dalam tangisnya. 

Dengan terpaksa dan berat hati sebagai istri yang taat kepada suaminya, Maryati pun meridhoi kepergian suaminya, meskipun tengah mengandung 6 bulan.

“Permintaan apa yang pernah aku tolak, duhai suamiku? Engkaulah nahkoda keluarga kecil kita. Aku percaya keputusanmu adalah yang terbaik untuk kita”, tutur Maryati dengan penuh ketulusan.

“Aku meridhoi keputusanmu, Mas, berlayarlah, capailah tujuan muliamu itu. Biarlah aku yang  mengurus Fatih. Aku akan selalu mendoakan dan menunggumu, Mas. Percayalah Allah akan senantiasa menaungi kita dengan rahmatNya”, lanjut Maryati yang sudah mulai tenang.

            Keesokan harinya Samijan pun meninggalkan rumah, berangkat ke Surabaya setelah menjelaskan panjang lebar kepada anak sulungnya –Fatih. Maryati dan Fatih turut melepas keberangkatan Samijan hingga ke terminal kota. Fatih awalnya menangis merengek memohon agar ayahnya tidak pergi, namun dengan penuh kasih sayang, Maryati dan Samijan berhasil menanamkan pengertian dengan pemahaman yang mudah diterima. Alhasil Fatih tidak rewel lagi dan bisa memahami kepergian ayahnya.

o 0 o

Kini Maryati hanya tinggal berdua dengan Fatih, anak sulungnya yang masih duduk di bangku sekolah dasar tingkat tiga. Tiga minggu pertama Samijan mengirimkan surat untuk Maryati, bahwa ia dalam kondisi baik-baik saja dan mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan properti sebagai cleaning service. Maryati sangat lega mendengar kabar dari suaminya itu. Mengetahui suaminya baik-baik saja Maryati sudah sangat senang, ditambah lagi dengan kabar bahwa suaminya mendapat pekerjaan baru. Surat beserta uang bulanan dari Samijan tidak pernah telat, hingga menjelang kelahiran anak keduannya. Kebutuhan rumah tangga dengan uang yang pas-pasan dapat dikatakan sangat cukup. Bahkan berkat ke hati-hatian Maryati, ia dapat menyisihkan uang kiriman Samijan yang tak seberapa untuk ditabung di bank. Maryati piawai dan sangat berhati-hati dalam membelanjakan uang suaminya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, meskipun ia tengah hamil tua. Biar bagaimanapun juga Maryati tidak pernah mengeluhkan keadaan perekonomian keluarga kecilnya.

Dengan perut yang kian membesar, setiap hari Maryati harus mengayuh sepedanya sejauh 8 Km untuk mengantar Fatih ke sekolah dengan sepeda tua milik suaminya. Ironisnya di desa tempat tinggal Maryati tidak ada satupun angkotan yang melintas, ia juga tidak tega membiarkan Fatih berjalan kaki sejauh 8 Km meski banyak temannya.

Perut Maryati semakin membesar, pergerakan  janin di dalam kandungan pun sudah mulai jarang dan melambat. Tinggal menghitung hari lagi janin di dalam kandungannya akan segera keluar menyaksikan manis getir kehidupan dunia. Tanpa terasa sudah tiga bulan Samijan tidak melengkapi hari-hari keluarga kecil Maryati. Tidak seperti biasanya, sudah dipenghujung bulan namun surat dan kiriman Samijan belum jua datang. Maryati mulai resah dan khawatir. Namun ia segera menepisnya dan meyakinkan dirinya bahwa suaminya akan segera pulang.

o 0 o

Maryati ditemani ibunya yang tinggal di desa sebelah pergi ke bidan untuk mengecek kandungannya yang makin hari makin terasa detik-detik kelahirannya dan memang sudah mendekati prediksi hari kelahiran. Sedangkan Fatih dititipkan di rumah ibunya dengan kakek Fatih. Benar saja, malam harinya Maryati melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik dan mirip sekali dengan Samijan. Berkulit putih bersih, hidungnya menjulang, dan pipinya gembil seperti milik Maryati.

“Bayinya perempuan, nduk”, ujar ibu Maryati dengan penuh kabahagiaan.

Tangis haru Maryati dan Ibunya tidak bisa dibendung lagi. Namun sayang dikelahiran ke dua ini Maryati tidak ditemani suaminya, bahkan surat pun belum sampai-sampai jua.

Keesokan harinya setelah Maryati diperbolehkan pulang oleh bidannya, surat dari Samijan datang. Ia meminta maaf atas keterlambatan memberi kabar dan karena tidak bisa pulang. Samijan membawa kabar baik bahwa ia kini diangkat menjadi kepala divisi Cleaning Service berkat kerja keras dan keuletannya. Maryati sangat lega dan segera membalas surat Samijan, memberitahu bahwa kelahiran anak keduanya lancar dan dikaruniai anak perempuan. Maryati mengusulkan pula agar anaknya diberi nama Nafisah, yang dalam bahasa Arab memiliki arti permata yang sangat berharga. Genap sudah kebahagiaan keluarga kecil itu, sepasang suami istri yang saling mencinta sepenuh hati dan dikaruniai sarimbit keturunan–-laki – laki dan perempuan.

o 0 o

Waktu terus berjalan, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Lambat laun surat dan kiriman dari Samijan sudah tidak seperti dalu lagi, menghilang ditelan bumi. Semenjak kelahiran Nafisah, Samijan tidak pernah lagi mengirim kabar. Khawatir, kecewa, takut, amarah beradu satu dalam setampuk bingkai kerinduan. Maryati mulai resah dan gelisah, ia juga tidak pernah diberitahu alamat Samijan di Surabaya. Maryati pun pasrah dengan segala keputusanNya.

Sikap sabar Maryati terus diuji dari waktu ke waktu. Tabungan Maryati sudah mulai menipis, sedangkan kebutuhan pokok semakin membengkak. Ia sadar sedih yang berlarut-larut tidak akan memperbaiki keadaan. Setelah berpikir panjang dan menenangkan hati, Maryati memutar otak mencari jalan keluar untuk bisa menyambung hidup dengan kedua anaknya. Akhirnya Maryati memutuskan untuk menjadi loper koran. Setiap pagi Maryati sudah harus menyelesaikan pekerjaan rumah dan menyiapkan sarapan untuk Fatih dan Nafisah. Kemudian ia baru berangkat mengantar Fatih ke sekolah sambil menggendong Nafisah, lalu dilanjutkan ke agen dan mengantarnya ke pelanggan yang ada di terminal kota. Maryati adalah satu-satunya loper koran perempuan yang menggunakan sepeda ontel tua sambil menggendong Nafisah. Seusai mengantar koran, Maryati bergegas pulang untuk melanjutkan tugasnya sebagai buruh cuci. Hebatnya lagi, Nafisah tidak pernah rewel karena diajak ibunya bekerja, hanya sesekali menangis karena lapar dan ngompol.

Banyak orang yang simpati dan kasihan melihat perjuangan Maryati membesarkan kedua anaknya seorang diri. Diusianya yang hampir kepala empat Maryati masih kelihatan cantik, berkali-kali Maryati kedatangan tamu yang tidak lain adalah laki-laki yang berniat untuk meminangnya. Suatu hari datanglah pria muda yang tampan dan gagah hendak melamarnya, namun Maryati tetap bergeming. Maryati menolak semua laki-laki yang berniat mengkhitbahnya, dengan dalih ingin hidup bertiga dengan anak-anaknya. Namun jauh di lubuk hati Maryati, –bahkan setelah ditinggal sekian lama tanpa kabar, Maryati masih menanam lekat cinta tulusnya kepada Samijan. Maryati masih setia. Maryati masih bebakti, bahkan ketika orang yang dibaktikan sudah pergi meninggalkannya. Maryati selalu mengingat akan janji kepulangan Samijan. Bahkan setiap tarikan hembus nafas, Maryati masih mengingatnya jelas. Ingatan itu terpatri di dalam memori otaknya. Sungguh beruntung nian orang-orang yang setia saling tulus mencintai satu sama lain. 

Kendati demikian, Maryati tidak pernah mempermasalahkan keadaannya. Sikap sabar tetap dijalakannya. Sikap itu mengiringi perjalanan hidupnya. Ia tetap tegar dan tetap memancarkan keteduhan bagi siapapun yang memandangnya. Baginya tinggal bersama kedua anaknya, menyaksikan mereka tumbuh dengan deretan prestasi adalah kebahagiaan tersendiri bagi Maryati. Sebagai perempuan Jawa, Maryati terbiasa tersenyum walau di dalam hati kesedihan teramat sangat. Membahagiakan anaknya dan orang lain adalah bagian dari Maryati. Namun, keluarga, pengalaman, kedekatan dengan Tuhan juga membentuknya menjadi pribadi yang tegar, ikhlas, dan sabar.

o 0 o

Tanpa terasa sepuluh tahun lamanya suami Maryati pergi meninggalkan bahtera rumah tangganya yang berusaha mereka bangun dengan penuh cinta. Itu artinya selama itu pula Maryati seorang diri menggerakkan roda kehidupan rumah tangganya. Membesarkan dan mendidik putra-putrinya, berperan ganda sebagai ayah dan ibu bagi kedua anaknya. Kini Fatih berhasil duduk di bangku kuliah jurusan kedokteran hewan di universitas negeri nomor satu di Indonesia. Ia dapat menyelesaikan pendidikannya masing-masing dua tahun di SMP dan SMA. Fatih sangat cerdas, sehingga ia kuliah dengan beasiswa tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Sedangkan Nafisah masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Fatih dan Nafisah adalah anak yang taat dan berbakti kepada ibunya. Maryati sangat bangga dikaruniai anak seperti mereka. Kebahagiaanya terletak pada keberhasilannya mengantarkan putra-putrinya meraih cita-citanya. Hal demikian tidak lepas dari kerja keras, kesabaran, dan kedekatan Maryati dengan Tuhannya.

Magelang, 15 Juni 2017

*) Cerpen ini telah diterbitkan dalam antologi cerpen “Kepakan Sayap Elang Muda”

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*