Teori Big Bang Dalam Al-Quran

Oleh Nurul Fatimah, S.Pd

Segala sesuatu yang wujud pasti ada yang menciptakannya. Segala sesuatu yang diciptakan memiliki permulaan, begitu pula dengan alam semesta ini. Sebagaimana hadist riwayat Al-Bukhari dan Muslim yang artinya :

Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan (Azaly), tidak suatu apapun pada azal selain Dia. Dan adalah arsy-Nya berada di atas air. Kemudian Dia menuliskan di atas adz-Dzikr (al-lauh al-mahfuzh) segala seuatu, lalu Dia ciptakan seluruh lapisan langit dan bumi”. 

Hadist ini menjelaskan bahwa segala sesuatu selain Allah memiliki permulaan. Artinya sebelum Allah menciptakan makluk-makhluk tersebut, tidak ada bumi, tidak ada langit, tidak ada apapun dan hanya Allah yang tidak memiliki permulaan (Azaly). Hadist ini juga menjelaskan bahwa alam semesta memiliki permulaan.

Alam Semesta adalah segala sesuatu yang ada pada diri manusia dan di luar dirinya yang merupakan suatu kesatuan sistem yang unik dan misterius. Alam semesta juga dapat didefinisikan segala sesuatu yang ada atau yang dianggap ada oleh manusia di dunia ini selain Allah SWT beserta Dzat dan sifat-Nya. Lalu bagaimana permulaan alam semesta yang di maksud ?

Dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, para ilmuan telah melakukan serangkaian percobaan, pengamatan, perhitungan menggunakan teknologi mutakhir dan menyakini bahwa alam semesta memiliki permulaan, banyak teori yang muncul mengenai permulaan terbentuknya alam semesta ini, seperti teori Big Bang.

Teori Big Bang merupakan teori yang sampai saat ini dinilai paling akurat mengenai terbentuknya alam semesta. Teori Big Bang menegaskan bahwa pada awalnya alam semesta terdiri dari materi yang sangat padat dan sangat panas, materi tersebut meledak dengan kekuatan yang sangat tinggi sehingga terus mengalami perkembangan dan terus berekspansi. Diperkuat dengan pengamatan yang dilakukan oleh  Edwin Hubble pada tahun 1924 terhadap galaksi, Edwin Hubble menemukan bahwa alam semesta ini terus berkembang, pengamatan ini sesuai dengan teori Big Bang.

Dalam agama, Islam khususnya sangat mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Banyak ayat al qur’an dan al hadits yang memberikan petunjuk dan arahan bagi muslimin untuk menuntut ilmu. Bahkan ayat pertama al qur’an yang turun berisi perintah membaca. Membaca berarti berpikir secara teratur dan sistematis terhadap firman dan ciptaannya (ayat qauliyyah dan kauniyyah). Membaca merupakan kunci dari lahirnya ilmu pengetahuan. Selain itu, banyak kandungan dalam alqur’an tentang ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk mengenai penciptaan alam semesta.

Jauh sebelum penelitian yang dilakukan oleh ilmuan-ilmuan sains mengenai permulaan alam semesta, Allah SWT berfirman dalam alqur’an :

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi itu keduanya dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya, dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS. Al-anbiyaa’ [21]:30).

Dalam Tafsir al Misbah, berpendapat bahwa langit dan bumi tadinya merupakan gumpalan yang terpadu. Hujan tidak turun dan bumipun tidak ditumbuhi pepohonan, kemudian Allah membelah langit dan bumi dengan jalan menurunkan hujan dari langit dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan di bumi.

Pendapat lain menyatakan bahwa bumi dan langit tadinya merupakan sesuatu yang utuh tidak terpisah, kemudian Allah pisahkan dengan mengangkat langit ke atas dan membiarkan bumi tetap ditempatnya berada dibawah lalu memisahkan keduanya dengan udara.

Ayat ini dipahami oleh ilmuan sebagai salah satu mukjizat Al-qur’an yang mengungkap peristiwa penciptaan planet-planet. Banyak teori ilmiah dengan bukti-bukti  yang cukup kuat, yang menyatakan bahwa langit dan bumi tadinya merupakan satu gumpalan atau yang diistilahan oleh ayat ini dengan  ratqan. Lalu gumpalan itu berpisah sehingga terjadilah pemisahan antar bumi dan langit.

Dari penjelasan Q.S al-Anbiya’ ayat 30 dapat kita pahami bahwa alam semesta bermula dari gumpalan yang kemudian terpisah, begitu pula penjelasan teori Big Bang yang menyatakan bahwa alam semesta awal mulanya berasal dari ledakan besar yang kemudian mengembang. Kedua penjelasan ini mengambarkan bahwa alam semesta bermula dari suatu yang padu kemudian berpisah (mengembang).

Wallahu A’lam Bishowab

*penulis adalah Pembimbing di Madrasah Tsanawiyah Syubbanul Wathon Tegalrejo mengampu mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*