Menyingkap Operasi Hitung di Balik Kalender Hijriyah

Oleh Rahmawati Atika Andriani, S.Pd., Gr.

Dalam kehidupan manusia, kalender memiliki peranan penting. Banyak hal yang dilakukan oleh manusia yang berkaitan dengan waktu. Kalender hadir sebagai pedoman dalam menentukan waktu untuk beribadah maupun kegiatan lainnya. Kehadiran kalender juga memudahkan masyarakat dalam menyelesaikan kegiatannya seperti surat menyurat dalam pemerintahan. Di dunia ini berbagai kalender yang digunakan sebagai penanggalan, seperti Kalender Syamsiyah, Kalender Jawa, Kalender Cina, Kalender Hijriyah, dan lain-lain. Di antara jenis-jenis kalender tersebut ada satu jenis kalender yang digunakan umat Islam, bahkan kadang ada yang menyebutnya Kalender Islam yaitu Kalender Hijriyah,

Kalender Hijriyah digunakan sejak masa Khalifah Umar bin Khatab dengan menetapkan peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah sebagai awal tahun. Kalender Hijriyah adalah salah satu sistem penanggalan yang disusun berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi. Kalender hijriyah dibangun berdasarkan rata-rata siklus sonadik bulan dan memiliki 12 bulan dalam satu tahun. Hal ini sesuai dengan Surat At-Taubah ayat 36 Allah SWT, berfirman tentang bilangan bulan dalam satu tahun. Selengkapnya firman yang dimaksud adalah :

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ وَقَٰتِلُواْ ٱلۡمُشۡرِكِينَ كَآفَّةٗ كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ كَآفَّةٗۚ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلۡمُتَّقِينَ 

“Sesungguhnya bilangan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”.

Nama-nama kedua belas bulan yang dijelaskan pada ayat tersebut adalah 1. Muharrom (bulan yang disucikan), 2. Shofar (bulan yang dikosongkan), 3. Robi’ul Awal (musim semi pertama), 4. Robi’ul Akhir (musim semi kedua), 5. Jumadil Awal (musim kering pertama), 6. Jumadil Akhir (musim kering kedua), 7. Rojab (bulan pujian), 8. Sya’ban (bulan pembagian), 9. Ramadhan (bulan yang sangat panas), 10. Syawwal (bulan berburu), 11. Dzulkaidah (bulan istirahat), 12. Dzulhijjah (bulan ziarah).

Sedangkan empat bulan yang diharamkan pernah dikatakan Nabi Muhammad SAW. dalam sebuah hadis “Sesungguhnya zaman ini telah berjalan (berputar), sebagaimana perjalanan awalnya ketika Allah menciptakan  langit dan bumi, yang mana satu tahun ada 12 bulan. Di antaranya ada empat bulan haram, tiga bulan yang (letaknya) berurutan, yaitu Dzulkaidah, Dzulhijjah, dan Muharrom. Kemudian Rojab yang berada di antara Jumadil (Akhir) dan Sya’ban” (HR Bukhari dan Muslim).

Dan mengapa bulan-bulan tersebut diharamkan? Allah mengharamkan empat bulan tersebut untuk pelaksanaan manasik haji dan umrah. Seorang ahli tafsir, Ibn Abbas juga berkata “Allah menjadikan bulan-bulan tersebut bulan yang suci, dan kesuciannya begitu diagungkan, dan menjadi dosa di dalamnya juga besar, sebagaimana dia menjadikan amal shalih dan balasan lebih besar”.

Perhitungan jumlah hari dalam satu bulan berkiblat pada satu kali edar bulan yang memerlukan waktu 29 hari 12 jam 44 menit 2,5 detik (Muhyiddin Khazim, 2004; 111). Berdasarkan kesepakatan, agar tidak jadi hari pecahan maka ditetapkan ada yang 30 hari dan ada pula yang 29 hari. yaitu untuk bulan-bulan ganjil berumur 30 hari dan bulan-bulan berumur genap 29 hari, kecuali pada bulan ke 12 (Dzulhijjah) pada tahun kabisat berumur 30 hari.

Setiap 30 tahun hijriyah terdapat 11 tahun kabisat dan 19 tahun basithah. Untuk menentukan apakah suatu tahun hijriyah termasuk tahun kabisat atau basithah tidaklah sulit. Bagilah suatu tahun tersebut dengan 30, lalu ambil sisanya. Jika sisanya sama dengan angka 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26, atau 29, maka termasuk tahun kabisat dan jika sisanya selain yang disebutkan diatas maka tahun tersebut merupakan tahun basithah. Contoh tahun 1063 H dibagi 30 adalah 35 dan bersisa 13, karena bersisa 13 maka tahun tersebut tahun kabisat. Coba kita ambil contoh lain, yaitu tahun ini (1441 H). Apabila 1441 dibagi 30 adalah 48 dan bersisa 1. Karena bersisa 1, berarti 1441 H maka tahun tersebut merupakan tahun basithah.

Tahun kabisat, terdapat 355 hari tiap tahunnya. Sedangkan tahun basithah, terdapat 354 hari tiap tahunnya. Jumlah hari pada tahun basithah tersebut didapat berdasarkan revolusi bulan terhadap bumi yang berjumlah 29 ½ hari (1 kali revolusi bulan terhadap bumi) kemudian dikali 12 (jumlah revolusi bulan terhadap bumi selama satu kali revolusi bumi terhadap matahari). Sementara tambahan 1 hari pada setiap tahun kabisat dapat ditunjukkan dengan operasi berikut: 44 menit 2,5 detik (kelebihan menit dan detik setiap satu kali revolusi bulan terhadap bumi) yang dikalikan dengan 360 (jumlah bulan dalam 30 tahun) akan menghasilkan 15.855 menit  atau  264,25 jam atau 11,010417 hari, sehingga terdapat 11 hari tambahan untuk setiap rentan waktu 30 tahun.

Dalam rentang 30 tahun (atau 360 bulan), banyaknya hari adalah (30 x 354)+ 11 = 10631 hari. Rata-rata satu bulan adalah  hari. Angka ini sangat dekat dengan rata-rata bulan sinodik yaitu 29,530589 hari. Selisih dalam satu bulan adalah 0,000033 hari, atau menjadi sama dengan 1 hari dalam waktu sekitar 30.300 bulan (2525 tahun). Selisih ini sangat kecil. Hingga saat ini, tahun islam masih sekitar 1400-an, sehingga belum perlu untuk dikoreksi.

Wallahu a’lam bisshowab.

DAFTAR PUSTAKA

El-Fikri, Syahruddin. 2014. Mengenal Kalender Hijriyah. Republika, 25 Oktober 2014

Khazin, Muhyiddin. 2004. Ilmu Falak dalam Teori dan Praktik.  Yogyakarta: Penerbit Buana Pustaka

*penulis adalah Pembimbing Madrasah Tsanawiyah Syubbanul Wathon mengampu mata pelajaran Matematika

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*