Dominasi Fitur Direktif dalam Kumpulan Hadits Arba’in Nawawi Karya Imam Nawawi

Oleh Siti Ngiyatul Lailiyah,  S.Pd

Bahasa merupakan sarana pokok dalam berinteraksi antar manusia untuk memenuhi kebutuhan komunikasinya. Pentingnya peran bahasa ini menarik para pakar untuk mengklasifikasi cabang-cabang ilmu bahasa secara khusus dan mendalam. Salah satunya adalah cabang ilmu pragmatik.

Pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang menelaah makna-makna satuan lingual secara eksternal dan terikat dengan konteks (context dependent). Bila diamati lebih jauh, makna dalam kajian pragmatik ini mengyingkap maksud penutur (speaker meaning) atau (speaker sense). Makna dalam cabang pragmatik ini dapat dirumuskan dengan kalimat apakah yang kamu maksud dengan berkata x itu?

Menurut Leech (dalam Wijana, 2009) pragmatik dalam mengkaji bahasa berintegrasi dengan tata bahasa yang terdiri dari fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Jadi dapat disimpulkan bahwa pragmatik menelaah maksud pembicaraan baik secara tersurat maupun tersirat di balik tuturan tersebut.

 Setiap tuturan tidak melulu merepresentasikan unsur-unsur makna secara langsung. Ada beberapa aspek yang turut dipertimbangkan dalam menafsirkan tuturan, Leech (dalam Wijana, 2009) menyebutkan aspek tersebut antara lain (1) penutur dan mitra tutur (usia, latar belakang sosial ekonomi, jenis kelamin, tingkat keakraban, dsb); (2) konteks tuturan; (3) tujuan tuturan (bersifat fungsional); (4) tuturan sebagai tindakan (melibatkan waktu dan tempat pengutaraannya); (5) tuturan sebagai produk tindak verba.

Tindak tutur merupkan bentuk komunikasi antara penutur dan mitra tutur dengan maksud dan tujuan tertentu. Searle (Wijana, 2009) secara pragmatis mengelompokkan tindak tutur menjadi tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan penutur, yakni lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Lokusi adalah tindak tutur yang menyampaikan informasi tanpa tendensi apapun, artinya apa yang diujarkan itulah informasi yang disampaikan. Bahasa dapat difungsikan oleh pemakainya untuk melakukan sesuatu. Tindak tutur yang demikian ini disebut tindak tutur ilokusi. Pada dasarnya, konsep tindak tutur ilokusi ada pada intonasi kalimat yang diujarkan.

Menurut Searle (Putrayasa, 2014, p. 89) tindak tutur ilokusi diklasifikasikan menjadi lima jenis tindak tutur yaitu, tindak tutur asertif, tindak tutur direktif, tindak tutur komisif, tindak tutur ekspresif, dan tindak tutur deklaratif. Tindak tutur asertif adalah tindak tutur yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu dengan tujuan memberikan informasi. Hal yang diungkapkan berkaitan dengan fakta-fakta yang sedang, akan, atau telah terjadi, sehingga dapat dibuktikan kebenarannya saat atau setelah tuturan itu diutarakan. Tindak tutur direktif adalah tindak tutur yang menuntut mitra tutur untuk melakukan sesuatu. Direktif dibedakan menjadi tiga yaitu perintah, permohonan, dan saran. Tindak tutur komisif adalah tindak tutur yang mengikat mitra tutur untuk melakukan tindakan sebagaimana yang dijanjikan, misalnya berjanji, bersumpah, dan mengancam.

Tuturan ekspresif adalah bentuk tuturan yang bermaksud untuk menyatakan sikap psikologis penutur terhadap suatu keadaan. Tuturan ekspresif yang diutarakan kepada mitra tutur mempunyai fungsi komunikasi seperti menyindir, mengeluh, mengkritik, menyalahkan, meminta maaf, mengejek, mengucapkan terima kasih, memuji, dan mengucapkan selamat. Tindak tutur deklaratif adalah tindak tutur yang bertujuan untuk menciptakan efek berupa tindakan oleh penutur.

Kalimat-kalimat dalam buku maupun kitab dapat diklasifikasikan ke dalam jenis-jenis tindak tutur ilokusi tertentu, berdasarkan dengan rambu-rambu yang diberikan penulisnya. Meskipun dalam buku maupun kitab tidak termuat intonasi secara ekspilist, pada hakikatnya keduanya merupakan bentuk komunikasi (ujaran berintonasi tertentu) penulis kepada pembaca.yang divisualisasikan dalam wujud teks.

Tindak tutur perlokusi adalah tindak tutur yang diutarakan dengan maksud untuk memberikan daya pengaruh atau efek bagi yang mendengarnya, baik itu sengaja maupun tidak sengaja. Tindak ini disebut juga dengan the act of affecting someone (Putrayasa, 2014 & Wijana, 2015). Perlokusi mengandung makna lebih dalam yang tersembunyi di balik ujaran.

Kitab Arba’in Nawawi merupakan kumpulan hadits Rosul yang ditulis oleh Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Ad-Dimasyqiy, Abu Zakaria. Kitab tersebut berisi 42 hadits yang kesemuanya merupakan tuturan-tuturan Rosul, setiap haditsnya memuat qaidah-qaidah agama Islam yang penting. Para ulama sepakat bahwa di dalam kitab Arba’in Nawawi dinyatakan sebagai poros Islam atau sebagai setengah bagian dari ajaran Islam, atau sepertiganya, atau sebutan lain yang semisal dengannya. Saleh, Adri dkk, (2017) mengatakan bahwa hadis Arba’in merupakan kumpulan hadis-hadis nabi pilihan yang memiliki keutamaan dalam pembahasan yang singkat dan padat berkaitan dengan kehidupan beragama, ibadah, muamalah dan syariah. Setiap haditsnya diperjelas dengan adanya judul. Meskipun demikian, tidak banyak orang yang mengkaji hadits sepenting ini dari segi linguistiknya, oleh sebab itu penliti tertarik untuk mengkaji Arba’in Nawawi dari segi tuturan dalam perspektif penggunaan tindak tutur ilokusi.

 Berdasarkan hasil analisisnya, dari 42 hadits Arba’in Nawawi ini didominasi oleh penggunakan tindak tutur ilokusi dengan fitur direktif. Seperti yang telah diuraikan, bahwa tindak tutur direktif ini diwujudkan dalam tuturan perintah, permohonan, dan saran. Sebagaimana yang termuat dalam hadit-hadit Arba’in Nawawi secara keseluruhan berisi petuah Rosul kepada umatnya. Jadi, hadits-hadits tersebut bukan sekadar memberikan informasi belaka namun implikatur di balik tuturan tersebut memuat anjuran, perintah, atau bahkan larangan. Berikut contoh bentuk analisisnya.

(Data 1)

Hadits ke-1, Setiap Amal Tergantung Niatnya

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .

[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]

Arti Hadits / ترجمة الحديث :

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya. Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. (Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang).

Konteks: Rosulullah bersabda kepada umatnya bahwasannya setiap perbuatan tegantung dengan niatnya.

Analisis:

Pada data 1 tuturan Rosulullah ditunjukkan dengan kalimat yang diberi warna hijau. Kalimat tersebut secara lokusi menginformasikan bahwa setiap amal perbuatan bergantung dengan niatnya, disitu dijelaskan lagi barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rosulullah maka ridho Allah dan rosulnyalah yang akan didapatkannya. Begitu juga bagi orang yang berhijrah karena perkara dunia atau karena perempuan yang akan dinikahi, maka yang ia dapatkan juga perkara dunia tersebut tidak lebih. Hijrah secara leksikal mempunyai makna berpindah, kemudian mengalami perluasan makna sehingga kini mempunyai makna meninggalkan keburukan menuju jalan Allah dan RosulNya.

Secara pragmatis, tindak ilokusi pada tuturan data 1 tersebut yaitu Rosullah ingin menganjurkan agar umatnya senantiasa meniatkan amal perbuatannya untuk menuju ridho Allah dan Rosul, sehingga apa yang ia kerjakan tidak sia-sia belaka. Implikatur tuturan tersebut juga menekankan bahwa amal perbuatan yang orientasinya untuk Allah dan Rosul, artinya ia hijrah untuk Allah dan Rosul, sebab semua pijakan hukum mengacu ke Allah dan Rosul bukan yang lainnya, misalnya perkara jodoh atau perkara duniawi lainnya. Tuturan-tuturan Rosul pada data 1 tersebut tergolong dalam tindak tutur ilokusi fitur direktif. 

Daftar Pustaka:

Al-Nawawi, Imam Abi Zakariya. (676 H). Matan Arba’in An-Nawawi. Semarang: Albarokah

Chaer, A. (2013). Pengantar semantik bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Putrayasa, I. B. (2014). Pragmatik. Jakarta: Graha Ilmu.

Wijana, I Dewa. (2009). Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: ANDI

*penulis ada Pembimbing Madrasah Tsanawiyah Syubbanul Wathon mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*