Awas, Waspadalah

Oleh Afri Fariyani S.Pd

Kriminalitas berasal dari kata “crimen” yang artinya kejahatan, tindak kriminal, atau juga diartikan suatu tindakan kejahatan yang bersifat negatif. Kriminalitas merupakan segala macam bentuk tindakan dan perbuatan yang merugikan secara ekonomis dan psikologis yang melanggar hukum yang berlaku dalam negara Indonesia serta norma-norma sosial dan agama sehingga masyarakat menentangnya. (Kartono, 1999: 122)

Penyebab Kriminalitas:

  1. Meningkatnya jumlah penduduk atau ledakan penduduk yang nantinya menjadi penyebab naiknya tingkat kriminalitas.
  2. Kondisi-kondisi sosial seperti pengangguran, kemiskinan yang makin menjamur, kondisi lingkungan yang mendukung melakukan kejahatan, tekanan mental serta kebencian.
  3. Moral atau moralitas tentang opini seseorang mengenai sesuatu. Kriminalitas terjadi bukan karena ada celah, namun dari penilaian baik atau buruk dari seseorang.
  4. Degradasi mental karena tingkat stres, depresi, serta tidak menemukan tempat untuk melampiaskan rasa kesal.
  5. Tingkat Pendidikan, pendidikan yang rendah maupun sarjana pun memiliki celah untuk bertindak kriminalitas.

Akibat dari tindakan kriminalitas:

  1. Kerugian materi, terjadi pada kasus pencopetan, penipuan, penjambretan dan pencurian tanpa disertai dengan tindak kekerasan.
  2. Trauma, terjadi pada seseorang yang mengalami tindakan kriminal yang disertai dengan ancaman benda-benda tajam seperti pisau, clurit, pistol dll.
  3. Cacat tubuh dan tekanan mental, terjadi jika tindakan kriminal disertai dengan penganiayaan atau pemerkosaan.
  4. Kematian, terjadi jika tindakan kriminal yang disertai pembunuhan, mutilasi dan lain-lain.

Meningkatnya tindak kriminalitas di Indonesia baru-baru ini, salah satunya merupakan imbas dari adanya wabah Covid-19. Semua aspek kehidupan masyarakat menjadi terdampak selama pandemi ini. Persoalan ekonomi merupakan dampak paling dirasakan di luar penyakit yang diderita oleh mereka yang terjangkit Covid-19. Bahkan, jika berlangsung semakin lama, dampak buruk sosial ekonomi bisa lebih tinggi dibandingkan dengan persoalan kesehatannya.

Persoalan ekonomi dapat menimbulkan persoalan lanjutan lainnya seperti peningkatan kejahatan. Akibat ketiadaan uang, sebagian orang terpaksa melakukan kejahatan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan tinggi jelang Ramadhan ditengarai turut mempengaruhi. Belum lagi pembebasan ribuan narapidana dengan dalih mengurangi risiko penyebaran di dalam sel bui. Apalagi keterbatasan gerak selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) membuat masyarakat tak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Rasa frustasi turut memicu seseorang untuk melakukan tindak kekerasan dan kejahatan. Tak jarang para napi asimilasi berpotensi untuk mengulangi perbuatan kriminal lagi.

Kondisi-kondisi seperti ini seolah membuat rasa aman menjadi sesuatu yang mahal. Sehingga perlu adanya tindakan berupa kegiatan preventif yang bisa dilakukan dalam meminimalisir kriminalitas diantaranya:

  1. Himbauan polisi kepada masyarakat supaya ikut berpartisipasi menjaga lingkungannya di masa pandemi Covid-19 berupa giat patroli dan penjagaan di tempat-tempat rawan terjadi kejahatan.
  2. Ketika pergi ke luar jangan sendirian, tidak membawa barang-barang yang bisa memancing tindak kejahatan dan mencari rute yang aman.
  3. Dalam melakukan apapun dan dalam keadaan apapun harus bisa lebih waspada dan berhati-hati serta lebih menegaskan norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Sedangkan pada kegiatan represif, yaitu dengan menindak tegas pelaku kejahatan jalanan yang tertangkap tangan dan membahayakan keselamatan masyarakat. Apabila ada residivis yang melakukan tindak kriminal lagi, maka akan dijatuhkan sanksi. Sanksi tersebut berupa pencabutan hak asimilasi, wajib menjalankan sisa pidananya kembali ke lembaga pemasyarakatan/rumah tahanan sebelumnya serta ditempatkan di ruang pengasingan.

Selain itu, perlu adanya evaluasi hukum pada lembaga-lembaga yang terkait dengan melakukan revisi untuk memperkuat tenaga atau kekuatan hukum demi menekan kriminalitas. Memberikan hukuman yang tidak pandang pangkat, jabatan/ status sosial dan memberikan hukuman yang pantas dengan apa yang mereka lakukan. Beberapa hal-hal tersebut dimaksudkan agar para pelaku tindak kriminal jera dan tak akan mengulangi tindakan kriminalitas. Jika semua pihak terlibat dalam penanganan penyakit ini dan meminimalisasi dampak sosial kriminalitas, maka kita akan mampu bertahan dalam situasi sulit ini.

Pada akhirnya, pesan Bang Napi seolah menjadi pengingat kepada kita bahwa: “Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, tetapi juga karena adanya kesempatan. WASPADALAH! WASPADALAH!”

*penulis adalah Pembimbing Madrasah Tsanawiyah Syubbanul Wathon mengampu mata pelajaran IPS dan PKn.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*