Penerapan KPK dalam Ilmu Faraid

Oleh Muflihan Ahmad Kundriasworo, S.Si., Gr.

Ilmu Faraid adalah ilmu yang memiliki kedudukan penting sebagai solusi permasalahan yang muncul di masyarakat dalam hal pembagian warisan. Warisan adalah segala sesuatu peninggalan yang diturunkan oleh pewaris yang sudah meninggal kepada orang yang menjadi kerabat/ahli waris dari pewaris yang sudah meninggal tersebut. Wujudnya bisa berupa harta bergerak (mobil, deposito, logam mulia, dll) atau tidak bergerak (rumah, tanah, bagunan, dll), dan termasuk pula hutang atau kewajiban sang pewaris. Hukum Waris adalah hukum yang mengatur tentang harta warisan tersebut. mengatur cara-cara berpindahnya, siapa-siapa saja orang yang pantas mendapatkan harta warisan tersebut, sampai harta apa saja yang diwariskan.

Di Indonesia sendiri, hukum waris sendiri terbagi menjadi 3 hukum, yaitu; hukum waris Islam, hukum waris perdata, dan hukum adat. Dalam kesempatan kali ini yang akan dibahas tentunya adalah hukum waris dalam Islam atau yang lebih dikenal dengan sebuat Ilmu Faraid. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda kepada Abu Hurairah RA, “Wahai Abu Hurairah, belajarlah ilmu faraidh dan ajarkanlah, karena sesungguhnya ia adalah setengah dari ilmu. Dan ilmu itu akan dilupakan dan dia adalah ilmu yang pertama kali dicabut dari umatku.” (HR. Ibnu Majah no. 2719). Yang menjadi landasan utama dari ilmu faraid adalah ketentuan Allah SWT yang di antaranya tertulis dalam Surat An-Nisa ayat 7, 11 – 12, dan 176. Dalam ayat-ayat tersebut dijelaskan siapa saja yang berhak menjadi ahli waris dan bagian-bagiannya. Ahli waris yang sudah ditentukan bagiannya disebut sebagai dzawul furudh. Ahli waris dzawul furudh terdiri dari 10 ahli waris perempuan dan 15 ahli waris laki-laki yang semuanya berjumlah 25 dan apabila semuanya hadir maka yang berhak mendapatkan waris hanyalah 5 golongan yaitu suami atau istri, ayah, ibu, anak perempuan, dan anak laki-laki.

Setiap ahli waris tidak selalu mutlak mendapatkan 1/2 atau 1/3 bagian, melainkan bisa berubah dengan melihat ahli waris yang ada. Namun yang pasti bagian-bagian yang sudah ditentukan adalah 1/2, 1/3, 1/4, 1/6, 1/8, 2/3. Dalam suatu kasus contoh, seorang suami yang ditinggal mati istrinya bisa mendapatkan 1/2 apabila istri yang meninggal tidak memiliki anak, tapi akan mendapatkan 1/4 apabila istri yang meninggal memiliki anak.

Sebelum membahas bagaimana cara menghitung pembagian harta warisan sebelumnya mesti diketahui lebih dahulu beberapa istilah yang biasa dipakai dalam pembagian warisan. Beberapa istilah itu antara lain adalah:

  • Asal Masalah (أصل المسألة).

Asal Masalah sendiri berarti

أقل عدد يصح منه فرضها أو فروضها

Artinya: “Bilangan terkecil yang darinya bisa didapatkan bagian secara benar.” (Musthafa Al-Khin, al-Fiqhul Manhaji, Damaskus, Darul Qalam, 2013, jilid II, halaman 339).

  • Adadur Ru’ûs  (عدد الرؤوس)

Secara bahasa ‘Adadur Ru’ûs berarti bilangan kepala.

  • Siham  (سهام)

Siham adalah nilai yang dihasilkan dari perkalian antara Asal Masalah dan bagian pasti seorang ahli waris dzawil furûdl.

  • Majmu’ Siham (مجموع السهام)

Majmu’ Siham adalah jumlah keseluruhan siham.

Setelah mengenal istilah-istilah tersebut berikutnya kita pahami langkah-langkah dalam menghitung pembagian warisan:

  1. Tentukan ahli waris yang ada dan berhak menerima warisan.
  2. Tentukan bagian masing-masing ahli waris, contoh istri 1/4, Ibu 1/6, anak laki-laki sisa (ashabah) dan seterusnya.
  3. Tentukan Asal Masalah, untuk mencari Asal Masalah dengan cara mencari Kelipatan Persekutuan Terkecil dari penyebut tiap bagian, misal antara 1/4 dan 1/6, KPK dari penyebut 4 dan 6 adalah 24.
  4. Tentukan Siham masing-masing ahli waris, contoh istri 24 x 1/4 = 6 dan seterusnya.

Untuk lebih jelasnya dapat digambarkan dalam sebuah kasus perhitungan waris dari kasus seorang laki-laki yang meninggal dunia dengan meninggalkan harta berupa aset dan uang sebesar Rp. 2,4 Milyar serta ahli waris seorang istri, seorang ibu dan seorang anak laki-laki. Maka perhitungan pembagian warisnya sebagai berikut:

Ahli WarisBagian24
Istri1/83
Ibu1/64
Anak laki-lakiSisa (Ashabah)17
Majmu’ Shiham24

Penjelasan :

  1. 1/8, 1/6 dan sisa adalah bagian masing-masing ahli waris.
  2. Angka 24 di atas, adalah Asal Masalah yang didapat dari kelipatan persekutuan terkecil dari 8 dan 6 yang menjadi penyebut pada bagian istri dan ibu.
  3. Angka 3, 4, dan 17 adalah siham masing-masing ahli waris dengan perhitungan sebagai berikut :
    1. Istri mendapatkan 1/8 dikalikan 24 yaitu 3.
    1. Ibu mendapatkan 1/6 dikalikan 24 yaitu 4.
    1. Anak laki-laki mendapatkan sisa dari 24 dikurangi 3 dan 4 yaitu 17.
  4. Angka 24 di bawah adalah Majmu’ Siham, atau jumlah dari seluruh siham semua ahli waris.
  5. Dengan harta warisan yang ditinggalkan sebesar Rp 2,4 Milyar, maka pembagian harta warisan untuk ahli waris sebagai berikut :
    1. Istri mendapatkan siham 3 dari majmu’ siham 24 maka 3/24 dikalikan RP 2,4 Milyar hasilnya Rp. 300.000.000,- atau tiga ratus juta rupiah.
    1. Ibu mendapatkan siham 4 dari majmu’ siham 24 maka 4/24 dikalikan RP 2,4 Milyar hasilnya Rp. 400.000.000,- atau empat ratus juta rupiah.
    1. Anak mendapatkan siham 17 dari majmu’ siham 24 maka 17/24 dikalikan RP 2,4 Milyar hasilnya Rp. 1.700.000.000,- atau satu milyar tujuh ratus juta rupiah.

Wallahu a’lam bisshowab.

*penulis adalah Kepala Madrasah Tsanawiyah Syubbanul Wathon Tegalrejo

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*